badge

Rabu, 11 April 2018

TB Laten Pada Anak, Tidak Menular Tapi Harus Waspada


TB Laten pada anak, tidak menular tapi harus waspada. Throwback kejadian 8 tahun yang lalu. Ketika anak kedua saya divonis menderita kelainan usus, hingga mau ngga mau harus dioperasi. Membayangkan bayi berusia 11 hari masuk ruang operasi saja sudah membuat lutut lemas. Tapi, operasi merupakan jalan satu-satunya supaya bayi saya tetap hidup.


Sekitar pukul 2 siang, bayi saya masuk ruang operasi. Dokter terpaksa memotong dan membuang usus kecil bayi saya yang abnormal. Kemudian menyambungnya kembali dengan yang normal. Hampir 4 jam berada di ruang operasi, akhirnya bayi saya keluar dengan perut yang diperban.

Seminggu pemulihan, bayi saya dibolehkan pulang. Alhamdulillah, hingga saat ini ia tumbuh normal dan sangat aktif. Beda banget dengan abang dan adiknya yang cenderung lebih santai. Anak kedua saya ini, bisa dibilang hyper-active. Diamnya cuma pas tidur aja. Saya sampai suka capek sendiri lihat dia ngga bisa diam.

Si Kakak, sebelum operasi 

Anak kedua saya ini walau sangat aktif, tapi cuma dia yang gampang sakit. Salah satu sakit penyakit yang hampir sering sekali menyerang adalah batuk sampai sesak gitu. Jadi, kalau dia udah terlalu banyak main dan lari-larian, dia bakal batuk-batuk dan sesak dadanya. Kadang disertai sama muntah juga. Saking seringnya, saya jadi agak kebal. Kalau dia udah mulai batuk dan sesak, ya udah agak santai saja. Paling saya hanya minta dia buat istirahat, minum yang banyak, dan kasih suplemen.

Pernah satu kali kondisinya drop banget. Terpaksa saya bawa ke rumah sakit dan akhirnya harus diopname. Karena batuk dan sesaknya ngga kunjung reda, dokter anak yang menangani, meminta saya untuk merontgen paru-paru si kakak. Dan, akhirnya diketahui kalau paru-paru si kakak kotor. Namun, dokter ngga menyebutkan kalau si kakak kena TB.

Sampai saat ini batuk jadi langganan si kakak. Namun akhir-akhir ini saya jadi worry, karena berat badan si kakak selalu stagnan. Berbulan-bulan ngga naik-naik walaupun makannya banyak.

Ada yang menyarankan saya untuk memeriksakan si kakak ke dokter. Dikhawatirkan si kakak kena TB yang salah satu tandanya adalah berat badan yang susah naik. Agak takut juga sih mau bawa si kakak ke dokter buat periksa. Tapi, seharusnya si kakak memang diperiksa lagi. Buat memastikan, apakah si kakak kena TB atau ngga.


dr. Arya Wibowo & dr. Wahyuni (source : novitania)

Minggu lalu, saya dan emak blogger lain sempat ikutan talkshow tentang TB yang diadakan oleh Sanofi. Narasumbernya dr. Wayuni dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan dr. Arya Wibitomo dari Sanofi. Dari situlah akhirnya saya tahu kalau ternyata TB itu ada 2 jenis, TB Laten dan Penyakit TB (TB Aktif). Keduanya sama-sama disebabkan oleh bakteri, tapi beda kondisi.

Apa sih perbedaan TB Laten dengan TB ?


Saya juga sempat bingung loh dengan 2 jenis TB ini, saya sih mikirnya ya sama-sama TB jadi bisa menular. Dan, ngga ada satupun ibu yang mau anaknya kena TB.

Baik TB Laten dengan Penyakit TB, keduanya terjadi karena ada bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada TB Laten, bakteri ini ngga aktif alias tidur dan ngga berkembang biak. Sedangkan pada penyakit TB, bakterinya aktif menyerang sistem kekebalan tubuh anak dan juga berkembang biak.



Anak yang terinfeksi TB Laten ngga menunjukkan gejala apapun. Dia juga ngga merasakan sakit, jadi kaya anak sehat biasa aja. Sedangkan anak dengan penyakit TB, biasanya ada gejalanya dan memang terlihat lesu dan kurang aktif.

TB Laten bisa berkembang menjadi penyakit TB kalau ngga ditangani sedini mungkin. Makanya, perlu banget pemeriksaan yang betul oleh dokter.  Biasanya dilakukan tes darah dan tes kulit TB untuk mengetahui, apakah si anak itu terinfeksi TB Laten atau ngga.



Dari perbedaan ini saya jadi berpikir, apa iya ya si kakak kena TB Laten. Rasanya memang harus bawa si kakak ke dokter untuk memastikan. Jadi ngga pakai 'kira-kira' atau 'sepertinya'.

Fakta tentang TB Anak di Indonesia, menyedihkan


Menurut data yang diberikan oleh dr. Wahyuni, Indonesia menempati urutan KEDUA untuk kasus TB terbanyak. Untuk tahun 2016, ada sekitar 350.000 kasus TB yang terjadi dan 9% diantaranya adalah anak-anak.

Sedih yaa kalau tahu negara kita punya prestasi, tapi prestasi yang sama sekali ngga bikin bangga. Untuk kasus TB anak ini sudah jadi masalah serius yang harus fokus ditangani. Orangtua punya peran penting untuk menjaga dan memastikan anak-anaknya ngga terjangkit virus TB.



Bagaimana sih cara mencegah TB pada anak? 


Ngga ada satupun orangtua yang mau anaknya sakit, apalagi sampai kena TB which is berobatnya mesti lama dan rutin. Untuk mencegah anak terjangkit virus TB, ada beberapa hal yang mesti orangtua lakukan, diantaranya;
  • Berikan vaksin BCG (Bacille Calmette - Guerin) pada anak sedini mungkin. Biasanya anak yang baru lahir dapat vaksin jenis ini. Vaksin BCG bisa didapat di posyandu, klinik, atau rumah sakit
  • Jaga lingkungan rumah agar tetap bersih, ngga lembab, dan cukup sinar matahari. 
  • Selalu berikan anak makanan dengan gizi seimbang dan lengkap. Hindari jajan sembarangan.
  • TB ditularkan melalui udara, jadi jauhi anak dari kontak dengan penderita TB Dewasa

Menurut dr. Wahyuni, TB pada anak itu ditularkan dari pasien TB Dewasa. Artinya, jika ada anak yang terkena TB, bisa dipastikan ngga menularkan pada anak lainnya. Tapi ya mesti diwaspadai juga ya. 

Jika anak terserang virus TB, bagaimana sih pengobatannya?


Baik anak yang terserang virus TB Laten ataupun TB, keduanya perlu dapat pengobatan yang tepat. Pengobatan pada TB terdiri dari terapi dan profilaksis (pengobatan pencegahan). 

Terapi TB diberikan kepad anak yang sakit TB. Sedangkan profilaksis TB diberikan kepada anak yang kontak erat dengan pasien TB menular (profilaksis primer) atau anak yang terinfeksi TB  tanpa rasa sakit. 

Dr. Wahyuni menyampaikan tentang bagaimana prosedur pengobatan TB yang benar, yaitu :
  • Pengobatan dengan kombinasi 3-4 jenis obat TB
  • Durasi pengobatan adalah 6-12 bulan, tergantung dari tingkat infeksi bakteri TB
  • Rutin dan patuh dalam minum obat supaya pengobatan TB yang dilakukan berhasil

Periksakan anak sedini mungkin, jika terlihat tanda-tanda TB


Saat terlihat tanda-tanda TB, banyak orangtua yang ngga sadar. Kendala yang sering sekali dihadapi adalah orangtua itu enggan bawa anaknya ke dokter. Jadi, ngga tau kan kalau ternyata anaknya kena TB. Dikiranya hanya batuk biasa aja, padahal ternyata gejala TB.

Kendala utama diagnosa kasus TB anak di Indonesia adalah, masih kurangnya alat diagnosa yang ramah anak. Selain itu, pencatatan dan pelaporan kasus TB anak juga tidak memadai.

Anak yang menderita TB tapi ngga mendapatkan penanganan yang tepat, bisa menyebabkan dampak yang negatif pada morbiditas dan moralitas anak. Kadang, anak yang kena TB jadi ngga percaya diri dan minder. Nah, disinilah peran orangtua diperlukan. Anak dengan TB baik TB Laten ataupun TB, jangan dikucilkan.

Jangan anggap remeh TB Anak, waspadai dan obati


Dari artikel ini, semoga bisa membantu buibu. Saat ada gejala atau tanda-tanda TB, baik TB Laten ataupun TB Aktif, segera bawa anak ke dokter. Karena, kita baru bisa tau apakan anak kena TB atau ngga kalau udah dibawa ke  dokter. Lewat tes yang nantinya dilakukan, barulah kita tau jenis TB apa yang menjangkiti anak kita.

Jaga terus kesehatan keluarga yaa. Kalau perlu, berikan anak-anak vitamin tambahan agar sistem imunnya makin kuat.



4 komentar:

  1. Makasih ya sharingnya bagus banget infonya. Anakku dulu juga kena TB dan makan obat rutin.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sekarwng udah sembuh ya mba. Semoga tetap sehat yaaa

    BalasHapus
  3. Skrg pemerintah alhamdulillah memberikan pengobatan gratis ya mbak.... Jadi bisa membantu masyarakat yang kurang mampu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya alhamdulillah, tinggal peran serta masyarakat aja buat bantu penderita TB. Bantu buat mengingatkan kalau berobat itu bisa menyembuhkan TB

      Hapus

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...