Jumat, 23 November 2018

BNPB Sudah Lakukan Apa Untuk Pemulihan Sulawesi Tengah?



Jum'at, 28 September 2018. Seluruh Indonesia dikejutkan dengan bencana besar yang ngga pernah diduga. Bencananya mengingatkan kita sama bencana belasan tahun lalu di Aceh. Tsunami dan gempa bumi, terjadi di Palu, Sulawesi Tengah ketika senja. Ketika banyak orang yang harusnya beristirahat setelah seharian beraktifitas, bencana itu datang begitu cepat.



Gempa dengan kekuatan 7,4 SR membuat panik semua warga di Palu. Belum habis kepanikan dan ketakutan warga, Tsunami menghantam lalu menenggelamkan ratusan rumah warga. Benar-benar bencana yang sangat mengerikan. Karena hanya dalam hitungan detik, ratusan orang hilang dan banyak ditemukan sudah tak bernyawa, rumah warga terbawa arus dan hancur. 

Tsunami dan gempa bumi yang meluluhlantahkan Palu, kini meninggalkan jejak. Terutama bagi mereka yang terkena dampak. Banyak korban selamat yang masih trauma. Mereka masih takut kalau-kalau bencana itu datang lagi. Perekonomian warga di daerah yang terdampak (likuifaksi) seakan mati. Banyak pengusaha yang menutup bisnisnya di Palu, lalu pindah ke daerah yang lebih selamat. 

Sulawesi Tengah, Daerah yang kini jadi perhatian banyak pihak mulai dibenahi. Ngga sedikit negara luar yang menaruh simpati dan tergerak buat membantu memulihkan daerah terdampak. Setidaknya, Sulawesi Tengah, khususnya Palu harus berani untuk bangkit lagi. Walau masih banyak masyarakat yang trauma, tapi kehidupan kan harus terus berjalan. 

BNPB Lakukan Apa Demi Sulteng Bangkit?


Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam hal pemulihan bencana ngga tinggal diam. BNPB menggandeng banyak pihak demi Sulteng bangkit paska bencana. 

Apa saja yang sudah dilakukan BNPB? Ternyata membantu memulihkan daerah terdampak bencana ngga segampang yang dibayangkan. Begitu rumit dan banyak banget yang harus dipikirkan. Setidaknya itu yang saya pahami ketika menjadi salah satu audiens dalam acara Seminar Pembelajaran Pascagempa (21/11) di Graha BNPB, Jakarta. 

Banyak insight seputar bencana yang saya dapat. Juga, bagaimana begitu banyak pihak yang sangat concern dalam memulihkan Sulawesi Tengah. Ada banyak fakta yang diungkap perihal bencana yang dialami Sulawesi Tengah, khususnya Palu. Saya yang memang awam soal bencana, dibuat melongo dengan segala fakta yang terjadi di di lapangan.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, Msc yang menjadi salah satu speaker menyampaikan kalau pihaknya, dalam hal ini BNPB sudah melakukan banyak sekali upaya pemulihan pascagempa.

Kerusakan akibat gempa dan tsunami Palu terjadi pada banyak sarana dan prasarana umum, seperti :

  1. Kerusakan di sektor transportasi  
  2. Kerusakan bangunan pendidikan. Ada 635 sekolah terdampak
  3. Kerusakan sektor ekonomi dan pariwisata, seperti pusat perbelanjaan dan beberapa hotel rusak berat
  4. Kerusakan sektor energi, meliputi SPBU dan asupan listrik yang padam. 
Ada 23 negara yang memberikan bantuan untuk membantu pemulihan Sulawesi Tengah. Tidak semua negara yang menawarkan bantuan diterima begitu saja oleh Indonesia, dalam hal ini BNPB. Ada kriteria dan persyaratan yang memang ditetapkan. 

Pakar yang dihadirkan membeberkan banyak sekali temuan dan penelitian yang mereka lakukan. Kenapa tanah Palu bisa mengalami gempa, disusul kemudian tsunami. Berbagai hasil penelitian disampaikan pada audiens yang hadir.

Dr. Mudrik Rahmawan, seorang pakar di bidang kebencanaan, mengatakan kalau gempa bumi memiliki siklus. Artinya, bisa berulang terjadi di titik yang sama. Beliau menambahkan, area likuifaksi akan berpotensi terulang lagi. Jadi sebaiknya, area tersebut tidak dijadikan tempat tinggal atau hunian.

Penting Untuk Siap Siaga Hadapi Bencana 


Bencana kan datangnya tidak bisa diprediksi. Dia bisa tiba-tiba datang walau kondisi lingkungan sedang baik-baik saja. Oleh Oleh karenanya, penting bagi kita untuk siap siaga dalam menghadapi kemungkinan bencana. Berikut upaya yang bisa kita lakukan untuk kesiapsiagaan :
  • Memahami bahaya sekitar 
  • Memahami sistem peringatan dini setempat. Institusi yang berwenang memberikan peringatan bencana (khususnya tsunami) adalah BMKG 
  • Memiliki keterampilan untuk mengevaluasi situasi secara cepat dan mengambil inisiatif tindakan untuk melindungi diri
  • Memiliki rencana antisipasi bencana untuk keluarga dan mempraktekan rencana tersebut dengan latihan
  • Mengurangi dampak bahaya melalui latihan mitigasi
  • Melibatkan diri dengan berpartisipasi dalam pelatihan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.