Senin, 07 Februari 2022

Peringatan Hari Gizi Nasional Ke-62, Cegah Stunting Selalu Penting

Kalau ngobrolin soal tumbuh kembang anak, rasanya tuh ngga pernah selesai. Ada aja yang perlu dan terkadang penting untuk selalu dibahas. Terutama bagi mereka yang baru punya anak atau baru jadi orangtua. Etapi, yang sudah lama jadi orangtua pun perlu juga belajar banyak soal anak. Belajarnya bisa lewat mana aja. Apalagi di era digital yang super cepat seperti sekarang ini, banyak banget ilmu parenting terutama soal tumbuh kembang anak yang bisa kita dapatkan. 

Salah satu isu dalam tumbuh kembang anak, yang masih terus jadi concern adalah stunting. Kementrian Kesehatan Indonesia masih menjadikan stunting sebagai masalah yang perlu ditangani dengan serius. Kenapa stunting perlu diberantas? Saya akan coba merangkum hasil webinar yang saya ikuti dalam peringatan Hari Gizi Nasional pada Kamis (3/02) lalu. 

Stunting


Stunting merupakan kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya menjadi lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya nutrisi terutama di 1000 hari pertama kelahiran. 

Pemberian Makan Yang Optimal, Kunci Cegah Stunting 

1000 hari pertama kelahiran (HPK) adalah masa yang sangat krusial dalam pertumbuhan seorang anak. Bahkan, di 1000 HPK itulah, yang menentukan anak berisiko stunting atau tidak. 

Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang optimal, akan sangat memengaruhi tumbuh kembang mereka kedepannya. Menurut data (sumber : SSGI 2019), stunting meningkat secara cepat di rentang usia 6-23 bulan. 

Kebutuhan gizi pada anak usia 0-23 bulan sangat tinggi karena beberapa hal, diantaranya ; Periode itu adalah masa dimana pertumbuhan berlangsung dengan pesat, pertumbuhan otak hingga 75% dari ukuran otak dewasa, lebih dari 1 juta koneksi saraf dibetnuk setiap detik, berat badan meningkat 4x llipat, dan tinggi badan meningkat hingga 75%. 

Untuk menhindari risiko stunting, UNICEF dan WHO memberikan rekomendasi yang merupakan standar emas PMBA. 

  • Inisiasi menyusui dini 
  • ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama, tanpa memberikan makanan lain termasuk air minum. 
  • Pemberian Makanan Pendamping ASI pertama pada saat bayi usia 6 bulan. Memberikan makanan terlalu dini dapat meningkatkan risiko kontaminasi patogen dan mengganti pemberian ASI dengan nilai gizi tinggi. Atau, memberikan MP-ASI yang terlambat, membuat bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang
  • Terus memberikan ASI hingga anka berusia dua tahun dengan MP-ASI yang tepat dan berkualitas
Rekomendasi dalam praktek PMBA untuk usia 6-23 bulan yang bisa diterapkan, sebagai berikut
  • ASI 
  • Makanan yang mengandung protein hewani, buah, dan sayur
  • Telur & Daging yang merupakan makanan dengan densitas gizi
  • Keanekaragaman Pangan, minimal 5 dari 8 kelompok pangan (ASI, biji-bijian, umbi-umbian, turunan susu, hewani, telur, buah dan sayur yang mengandung vitamin A, serta buah dan sayur lain)
  • Vitamin dan suplemen, bila diperlukan 
  • Hindari makanan dengan nilai gizi rendah
  • Hindari penambahan gula dalam makanan dan minuman
Situasi PMBA yang terjadi di daerah perkotaan juga tidak selalu baik. Dalam kondisi pandemi, banyak rumah tangga yang mengurangi pembelian bahan mentah dan pangan bergizi. Banyak yang beralih pada makanan cepat saji dan lauk matang di warung, karena dirasa lebih cepat dan murah. Berkurangnya daya beli menyebabkan rumah tangga membeli lebih sedikit protein seperti daging dan telur. 

Permasalahan yang terjadi bukan karena akses, tapi keterjangkauan atau daya beli. Banyak yang mengalami imbas pandemi sehingga pemasukan berkurang, bahkan kehilangan penghasilan. 

Dampak Kurang Gizi Dalam Awal Kehidupan 


Kekurangan gizi pada awal kehiduapan seorang anak, tidak hanya bisa menyebabkan stunting. Tetapi, bisa juga menghambat kecerdasan, memicu penyakit, dan menurunkan produktivitas. Sseorang anak yang kekurangan gizi, perkembangan kognitif dan motoriknya bisa terhambat. Itu akan berpengasuh pada perkembangan otak dan keberhasilan pendidikannya kelak. 

Mereka juga rentan mengalami gangguan metabolik pada usia dewasa nanti. Efeknya, bisa meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti ; diabetes, obesitas, stroke, dan penyakit jantung. Anak dengan stunting juga rentan sakit karena kekebalan tubuh (imunitas) lemah. Ketika masuk ke dunia kerja, ia akan sulit bersaing karena memiliki tingkat produktivitas yang rendah. 

ASI salah satu makanan yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan seorang anak. Itulah mengapa, seorang ibu penting sekali memerhatikan asupan ketika hamil dan menyusui. ASI memiliki kandungan penting yang mungkin tidak didapat dari jenis makanan lain. 

Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, data mengungkapkan bahwa terjadi penurunan angka menyusui. Data yang didapat dari SSGI, pada tahun 2021 terdapat penurunan sekitar 12.5% dalam pemberian ASI Eksklusif, jika dibandingkan pada tahun 2018 (sebelum pandemi). 

Banyaknya hoax dan pesan yang tidak seragam, menyebabkan ketakutan pada orangtua sehingga mereka untuk berhenti menyusui. Minimnya konseling karena adanya PPKM dan social distancing, jadi akses untuk mendapatkan info menjadi terbatas. Ada ibu dan para tenaga kesehatan merasa teknik menyusui lebih mudah dihadapi bila dilakukan secara tatap-muka tidak secara virtual. 

Cegah Stunting, Selalu Penting 


Dalam peringatan Hari Gizi Nasional ke-62, Kementrian Kesehatan Indonesia mengambil concern dalam penanggulangan stunting. Memang, dari tahun-tahun sebelumnya pun Kemenkes sangat concern dalam masalah stunting. Karena, bisa dibilang angka stunting di Indonesia pun masih tinggi. 

Stunting masih jadi masalah yang perlu ditanggulangi. Usaha untuk memberikan edukasi pada masyarakat masih terus digalakkan. Itu semua akan terwujud jika ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Posyandu bisa menjadi tempat edukasi bagi masyarakat. Pihak swasta seperti brand-brand yang concern pada kesehatan juga bisa ikut berpartisipasi dalam kampanye cegah stunting ini. 

Seperti inisiatif yang dilakukan Unilever Indonesia dalam perbaikan nutrisi dan stunting. Inisiatif yang dilakukan, diantaranya ;
  • Standarisasi nutrisi internal. 87% produk yang diproduksi Unilever Indonesia sudah sesuai dengan standar WHO 
  • Reformulasi Produk. Seperti reformulasi produk kecap dengan 30% kurang gula, pembatasan gula dan kalori dalam produk es krim, jus buah difortifikasi dengan vitamin C 100% kebutuhan harian, bumbu kaldu yang dibuat dengan garam beriodium, dan lain-lain 
  • Menciptakan kebiasan pola makan yang baik dan hidup bersih. Dilakukan dengan melakukan program Ibu dan Balita & Komunitas Sehat, program Sekolah dan Pesantren Sehat, Unilever Brightfuture, serta program Nutrimenu
Inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh pihak swasta, bisa jadi cara dalam mengurangi dan menekan angka stunting di Indonesia. Makin banyak pihak yang ikut berpartisipasi, maka bukan tidak mungkin stuting di Indonesia akan hilang. I hope so. 

Kepedulian kita sebagai masyarakat juga diharapakan bisa mengurangi angka stunting. Jika ada tetangga yang dirasa kekuarangan dalam pemberian makanan pada anak-anaknya, bisa dibantu atau dilaporkan ke kader Posyandu. Agar, pihak Posyandu bisa meneruskan ke dinas terkait. Dengan begitu, anak kurang gizi bisa dideteksi sedini mungkin. 











1 komentar:

  1. Belakangann ini banyak yang bicarain stunting ternyata karena kasusnya makin naik, memang masalah kekurangan gizi ini bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan si kecil jadi harus diatasi segera dengan memperhatikan asupan gizi mereka.

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.