Sabtu, 16 April 2022

Ketika Anak Harus Pergi Menuntut Ilmu

 

Nulis judulnya aja sudah melow duluan. Awal bulan Juli, which is kurang dari 3 bulan lagi, 2 anak saya bakal pergi buat melanjutkan sekolah. Yang pertama, bakal lanjut ke SMA dan yang kedua lanjut ke SMP. Keduanya memilih masuk pondok pesantren. Kalau 2 yang pergi, di rumah tinggal 2 anak aja. 



Keduanya bakal masuk pondok pesantren yang sama. Jadi kalau nengok bisa sekalian ditengok keduanya. Jujur, ini bukan kali pertama saya menguatkan diri berpisah (sementara) sama anak. Karena anak pertama sebelumnya juga sudah masuk pondok pesantren. Walaupun bukan perngalaman yang pertama, tapi yang namanya berpisah sama anak, pasti sedih juga. 

Nulis ini aja, sambil melow dan berasa ada yang pingin jatuh dari mata. Tapi, saya berusaha untuk bersikap biasa di depan anak. Mereka harus yakin kalau orangtuanya baik-baik saja, saat mereka akan pergi melanjutkan sekolah. 

Karena kedua anak yang bakal melanjutkan sekolah ini adalah laki-laki, maka saya harus yakin mereka akan baik-baik saja. Buat saya, anak laki itu harus tangguh dan kuat. Mereka kelak akan jadi pemimpin, jadi mereka harus punya mental yang kuat. Pesantren jadi salah satu cara saya dan suami, untuk menjadikan mereka pribadi yang mandiri, kuat, dan tangguh. Kalau laki-laki lemah, bagaimana dia bisa memimpin keluarganya? 

Anak laki harus dibiasakan mandiri, sebenarnya mau anak laki atau perempuan, ya harus diajarkan buat mandiri juga. Cuma, kalau untuk anak laki-laki, ketangguhan mereka harus di atas perempuan. Hidup berpisah dari orangtua dan rumah yang nyaman, harus diajarakan. Kan, nantinya mereka juga bakal tinggal sendiri dengan keluarga mereka. Jadi, orangtua sudah selayaknya mengajarkan bagaimana si anak bisa kuat, tanpa orangtua. 

Tinggal di pesantren, hidup dan belajar dengan orang yang asing bagi mereka pasti sebuah tantangan. Bagaimana mereka harus bersikap dan bersosialisasi dengan orang-orang yang baru pertama kali mereka temui. Mereka akan belajar mengambil keputusan dan menentukan pilihan sendiri. Buat saya, itu akan sangat membantu hidup mereka kedapannya. 

Saya sudah 'mengiring' mereka untuk bisa melanjutakan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Sejak mereka masih. SD saya sudah sounding kalau belajar di luar negeri itu banyak sekali manfaatnya. Wawasan mereka akan sangat terbuka labar. Dan, yang paling penting, sekolah di luar negeri akan mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur. Hidup belum tentu senyaman di negeri sendiri, harus adaptasi yang mungkin ngga sebentar, harus bisa mencukupi hidup sendiri, dan banyak lagi. 

Buat saya, anak-anak harus dilatih sedini mungkin untuk mandiri. Kan, ngga selamanya mereka akan hidup bersama kita. Pun, kita ngga selamanya bisa menemani mereka. Mengajarkan mereka hidup tanpa kita, adalah hal yang harus diajarkan ketika anak memang sudah siap. Ngga juga anak umur 2 tahun disuruh makan, mandi, tidur, cuci baju, sendiri. 

Yakin, Mereka Akan Baik-Baik Saja 

Kurang dari 3 bulan, kedua anak saya akan keluar rumah dan pergi melanjutkan sekolah. Bismillah, saya dan suami yakin kalau mereka akan baik-baik saja. Insyaallah, mereka ada di lingkungan yang baik dan terpantau. Mereka ada di lingkungan yang selalu saling mengingatkan dalam kebaikan. Untuk urusan ibadah, Insyaallah saya ngga akan ragu. 

Yang sekarang saya dan suami lakukan adalah banyak-banyak berdoa untuk kebaikan anak-anak. Saat orangtua ridho, Insyaallah ada ridho Allah juga yang menyertai. Buat kami, ini yang terbaik. Jadi kami ngga akan menyesali keputusan kami memasukkan anak ke pesantren. 

Semoga mereka dimudahkan dalam menuntut ilmu. Segala mimpi dan cita-cita mereka tercapai. Anak pertama saya bercita-cita kuliah di Turki, Madinah, atau Jepang. Anak kedua saya, bercia-cita kuliah di Jepang atau negara Eropa. 

'Bismillah ya nak, apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud. Allah mudahkan jalannya. Allah lancarkan rezekinya. Allah bimbing dan jaga selalu, dimanapun kalian berada' -bunda-

Sebagai orangtua, kita hanya bisa membimbing mereka. Ingat, anak kita saat ini, bukanlah milik kita. Mereka tetap milik penciptanya. Kita cuma dititipi, maka kita harus jaga dan rawat dengan baik. Jika dirawat dengan baik, kelak pertanggungjawaban kita di hadapan penciptanya, bisa lebih ringan. Malah bonusnya, anak-anak kita akan bisa mengajak kita ke tempat yang paling baik di akhirat. 


1 komentar:

  1. Begitu ya orang tua, ga ngerasa kalau anaknya udah besar eh tiba-tiba mereka udah waktunya belajar mulai sekolah dan hidup mandiri. Orang tua selalu merasa anaknya itu masih kecil, gak heran kalau rasa khawatir selalu ada. Pokoknya tetap doakan dan bimbing mereka itu yang terbaik.

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.