badge

Senin, 19 Mei 2014

Saat Musibah Menjadi Anugerah




Kejadiannya memang diluar dugaan. Namanya juga musibah, kita tidak akan pernah bisa memprediksi kapan itu terjadi. Saat musibah itu berlalu, barulah introspeksi diri.

Saat suami memberikan smartphone sebagai hadiah ulang tahun, rasanya exicited sekali. Walau awalnya males pake smartphone segala karena khawatir keasyikan dengan aplikasi-aplikasi didalamnya, akhirnya saya terima juga smartphone yang memang tidak terlalu mahal itu. Dalam hati berjanji, kalau smartphone ini akan saya gunakan semaksimal mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya minta izin untuk dagang online. Suami pun sama sekali tidak melarang, malah dia antusias sekali mendengar permintaan saya.
Beberapa orderan mulai saya dapatkan. Saya makin semangat menjalankan pekerjaan baru ini. Bolak-balik ke jasa kurir menjadi keseharian saya. Pokonya saya sangat senang dagang online.

Sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membuka toko offline. Aktivitas saya pun bertambah. Jaga toko offline sambil tetap menjalankan toko online. Jika ada orang yang datang ke toko walau hanya nanya-nanya aja, rasanya senang banget. Berharap nanti orang itu kembali lagi dan membeli beberapa potong baju yang saya jual.

Melihat peluang yang ada, saya pun meminta adik saya untuk join. Bukan untuk jualan baju, tapi untuk memanfaatkan teras toko yang kosong. Saya memintanya untuk jualan es yang sedang booming dan diminati semua usia. Jadilah, adik saya membuka booth di teras toko.
Yang awalnya saya harus buka tutup toko jika sore, karena mengurus anak-anak. Dengan adanya adik saya, saya tidak perlu lagi buka tutup. Sangat membantu sekali kehadirannya.

Hingga kejadian itu terjadi...
Adik saya harus menghadiri undangan pernikahan temannya. Saya pun sendiri jaga toko plus jaga boothnya. Saat saya sedang menyelesaikan tilawah, tiba-tiba ada 2 orang perempuan datang. Seorang perempuan sekitar 36 tahun berbadan gemuk, berkaca mata,  mengenakan jilbab dan seorang gadis dengan kisaran usia 21 tahun dengan tubuh yang tinggi berkulit putih, berambut ikal, berjerawat dan terlihat sangat manja. Gadis itu bahkan tidak melepas masker di wajahnya hanya menurunkannya dan membiarkan masker itu bertengger di dagunya. Kedua perempuan itu memesan es. Saya pun sibuk membuatkannya. Saat itu saya lupa membereskan dompet yang berserak diatas meja. Smartphone pun ada didalam dompet itu. Saat saya sibuk membuatkan es, perempuan 36 tahun melihat-lihat baju yang saya jual sambil bertanya. Gadis 21 tahun berdiri melihat saya yang sibuk dengan es walau sesekali ia masuk dan melihat-lihat baju.

Saya sama sekali tidak merasakan hal-hal yang negatif dari keduanya. Saat es pesanan mereka selesai saya buat, mereka membayar. Tapi tiba-tiba... bruuukk. Es yang telah saya bungkus dengan kantong plastik terjatuh. Gelas plastik yang menjadi wadah itupun pecah. Akhirnya saya pun membersihkan es yang terserak. Saya tidak tahu apa itu memang disengaja dan menjadi modus mereka, atau memang gadis 21 tahun itu tidak sengaja meletakannya terlalu pinggir jadi mudah jatuh.

Perempuan 36 tahun itu membeli 2 potong baju. Setelah membayar, uangnya tidak langsung saya letakkan didalam dompet. Saya hanya mengantonginya di saku baju. Tidak seperti biasanya, uang hasil dagangan biasanya langsung saya masukkan kedalam dompet tapi saat itu saya hanya memasukkan ke saku baju.

Setelah kedua wanita itu pergi, saya pun mengeluarkan uang dari saku baju. Betapa terkejutnya saya, karena dompet berwarna hijau dengan panjang kira-kira 20cm itu sudah tidak ada diatas meja. Saya pun berusaha tenang. Mungkin terjatuh, batin saya. saya mencoba menyisir seluruh sudut toko, tapi hasilnya, saya tidak menemukan dompet itu.

Saya pun terduduk. Pandangan pun menerawang. Mencoba kuat tapi akhirnya air mata saya tetap jatuh. Pikiran saya pun bermain, menerka-nerka apakah ini ‘teguran’ (lagi). Jika ingat beberapa kejadian yang tidak baik yang saya alami, (pasti) saat itu saya sedang marah dengan suami. Motor yang saya kendarai terpeleset, terserempet mobil pick up, kehilangan uang dari saku baju, keseleo dan beberapa kejadian yang tidak baik. Semuanya terjadi saat saya sedang marah dengan suami.
Saya sadar inilah teguran dari Alloh. Sambil berusaha introspeksi diri, setelahnya saya pun minta maaf. Sadar bahwa ini adalah kesalahan saya.

Tapi,  setelahnya pun saya bersyukur. Saya yakin seluruh kejadian yang tidak mengenakkan itu adalah bukti kasih sayang Alloh. Alloh tidak ingin saya menjadi istri yang tidak shalihah.  Dengan kejadian ini saya serasa ‘disentil’. Alloh menginginkan saya introspeksi, muhasabah.

Saya bersyukur Alloh masih mau menegur kesalahan saya. Sesuai dengan permohonan di tiap-tiap doa yang saya panjatkan. Saya berharap teguran ini menjadi penggugur dosa-dosa saya yang menggunung. Mungkin Alloh inginnya, saya tidak membawa dosa saat saya berjumpa denganNya. Makanya, seluruh dosa-dosa saya hukumannya ditunaikan di dunia. Berharap di akhirat, saya bersih dari dosa. Sungguh, cara yang sangat indah, yang Alloh berikan untuk saya.

Musibah-musibah itu membuat saya sadar akan Kasih Sayang yang Alloh berikan untuk tiap-tiap hambanya yang beriman. Musibah pun berubah menjadi anugrah bagi saya. Anugerah karena inilah cara Alloh mencitai saya. ‘Menyentil’ sedikit kuping ini agar selalu sadar bahwa kemuliaan seorang istri apabila ia mampu membuat suaminya merasa tenang.
Dan saya pun berusaha....

Bekasi @night
Friday 09052014





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...