badge

Selasa, 01 Juni 2021

Indonesia Bebas Kusta : Pentingnya Edukasi Untuk Perbaiki Stigma Kusta


Kalau dengar penyakit kusta, saya langsung teringat kisah nabi Ayub AS. Beliau adalah nabi yang diberi ujian penyakit kusta oleh Allah. Lamanya bukan hitungan bulan, tapi 18 tahun. Kalau orang biasa, mungkin akan stress dan depresi. Karena, kusta ini adalah penyakit yang menurut sebagian orang adalah penyakit yang menjijikan dan juga mengerikan. 

Penyebab Kusta


Penyakit Kusta atau Lepra merupakan penyakit yang disebabkan oleh mycrobacterium leprae. Bakteri ini bisa menular dari percikan cairan saluran pernapasan (droplet), atau ludah dan dahak yang keluar ketika batuk. Namun, penularannya tidak cepat. Seseorang bisa tertular jika terkena droplet secara terus menerus, dalam waktu yang lama. Bakteri ini butuh waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh manusia. Jadi, seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, bahkan berhubungan seksual. 

Di Indonesia, ternyata penderita kusta itu masih ada loh. Saya pikir, kusta sudah enyah dari Indonesia. Nyatanya, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, jumlah penderita kusta ada. Itu yang dikatakan oleh Komarudin S.Sos, M.Kes selaku Wasor Kusta dalam diskusi Ruang Publik bersama KBR yang saya ikuti lewat Youtube live streaming. 

Masih banyak stigma di masyarakat soal penyakit yang menyerang kulit dan saraf ini. Akibatnya, penderita kusta dikucilkan dan diasingkan. Kusta ini penyakit menular, namun penularannya ngga yang cepat banget gitu loh. Perlu waktu yang cukup lama buat si mycrobacterium leprae untuk inkubasi. Bahkan bisa sampai 20-30 tahun. 


Gejala Kusta Yang Perlu Diwaspadai

Penyakit kusta jika ditangani segera, maka penderitanya tidak akan mengalami kecacatan. Karena, jika terlambat ditangani, kusta bisa menyerang saraf yang mengakibatkan hilangnya sensasi rasa, termasuk rasa sakit. Nah, hal itu bisa menyebabkan luka atau cedera yang dialami, jadi tidak dirasa. Akibatnya, si penderita bisa mengalami gejala hilangnya jari tangan dan kaki. 

Nah, supaya tidak salah, berikut gejala kusta yang perlu diwaspadai. Bisa buat awareness ke lingkungan sekitar juga ya bund. 

  • Muncul lesi (bercak) pucat, berwarna lebih terang, dan menebal di kulit
  • Mati rasa di kulit, termasuk kehilangan kemampuan merasakan sentuhan, tekanan, suhu, dan rasa sakit 
  • Muncul luka tapi tidak terasa sakit 
  • Otot melemah, terutama otot tangan dan kaki 
  • Pembesaran saraf yang biasanya terjadi di siku dan lutut
  • Mata menjadi kering dan jadi jaraang mengedip 
  • Kehilangan alis dan bulu mata
  • Hidung tersumbat, mimisan, atau kehilangan tulang hidung 
Jika gejala di atas dialami oleh teman terdekat, atau mungkin diri sendiri, segera datangi tenaga kesehatan terdekat untuk melapor. Agar tenaga kesehatan bisa memberikan pengobatan. Sehingga kusta tidak menjadi serius dan bisa sembuh total. 

Peran Pemerintah Perbaiki Stigma Penyakit Kusta


Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, penyuluhan dan edukasi soal kusta masih terus dilakukan. Agar angka orang yang menderita kusta menjadi turun.  Hal itu juga dilakukan agar mitor dan stigma negatif dari penderita kusta bisa hilang.

Menurut Komarudin S.Sos, M.Kes selaku Wasor Kusta Kabupate Bone, Sulawesi Selatan, upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam memberantas stigma negatif kusta, terutama di masa pandemi ini, diantaranya;
  1. Melatih dan memberikan edukasi kepada penderita kusta yang berhasil sembuh, agar bisa mengubah stigma yang beredar di masyarakat soal kusta. 
  2. Memberikan keterampilan atau skill yang kelak bisa digunakan oleh Orang Yang Pernah Menderita Kusta (OYPMK) agar kelak bisa mandiri. 
  3. Mengadakan perekrutan kader yang nantinya, bisa memberikan edukasi kepada masyarakat lain kusta beserta penanganannya. 
  4. Pemeriksaan dan deteksi kelainan kulit 
  5. Mengkampanyekan 3M dalam menangani kusta, bahwa baik penderita maupun petugas kesehatan harus patuh pada protokol kesehatan. 
Upaya itu masih terus dilakukan agar masyarakat tetap aware terhadap penyakit yang sebenarnya bisa sembuh total, jika cepat ditangani. Kusta memang penyakit menular, namun penularannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi, jika mendapati ada kerabat atau tetangga yang terlihat menderita kusta, bisa segera melapor ke tenaga kesehatan setempat. Agar bisa cepat ditangani dan tidak menimbulkan penularan. 

Kusta Bukan Aib


OYPMK yang sudah sembuh total, bisa menjalani hidupnya seperti biasa. Jika terjadi kecacatan, dia bisa menggunakan kemampuannya untuk tetap berdaya. Yang perlu diperbaiki memang pola pikir masyarakat terhadap penderita kusta. Kusta bukan aib yang perlu dijauhi. Penderita kusta harusnya bisa mendapatkan dukungan moril agar mereka semangat untuk bisa sembuh. 

Dalam diskusi Ruang Publik bersama KBR, ada Rohman Budijanto SH, MH selaku Direktur Eksekutif The Jawa Post Institute of Pro-Otonomi-JPIP. Di Jawa Post sendiri, tidak ada perbedaan perlakukan antara karyawan yang normal maupun yang disabilitas. 

Jikapun ada calon karyawan yang menderita kusta, itu tidak menjadi perbedaan. Selama mereka memiliki skill dan mampu bekerja dengan baik, maka Jawa Post tidak akan mempermasalahkannya. Karena yang terpenting, skill atau kemampuan bekerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. 

Jadi, salah yaa kalau kita malah menjauhi penderita kusta atau OYPMK. Karena mereka, punya kesempatan bersosialisasi yang sama. Mereka butuh support agar punya semangat untuk sembuh. Seharusnya kita bantu mereka untuk bisa sembuh, bukan malah menjauhi. Semoga Indonesia bisa benar-benar bebas kusta ya. Atau, jika memungkinkan, semoga ada vaksin kusta untuk preventif. Agar anak cucu kita nantinya tidak ada yang menderita kusta.  









Dr. Rohman Budijanto SH Mh , Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-otonomi-JPIP;





Stop Diskriminasi Penderita Kusta 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...