badge

Selasa, 07 Maret 2017

Kalau Anak Tidak Sopan, Salah Siapa?



Sering banget lihat video yang isinya tentang seorang anak yang bersikap sangat tidak patut pada orangtuanya. Menurunya tingkat kesopanan anak sekarang bukan tanpa sebab loh. Kalau mau ditelusuri, banyak faktor kenapa mereka bisa bersikap tidak sopan. Dan salah satu alasannya adalah pola asuh. 

Kayanya alasan pola asuh yang salah ini bisa dijadikan alibi kuat. Orangtua itu banteng pertama tumbuh kembang anak. Kalau kita, sebagai orangtua, bisa menjalani peran dengan baik, bisa jadi anak akan tumbuh sesuai dengan baik juga. Tapi saya ngga bilang juga kalau orangtua salah 100% dalam kasus ini. Memang, peran lingkungan juga berpengaruh. Tapi, tetap aja peran lingkungan rumah a.k.a keluarga jadi modal penting dan utama dalam tumbuh kembang seorang anak.


Sering banget saya melihat secara langsung anak-anak yang ngelawan sama orangtuanya. Disitu saya sedih luar biasa. Ketika ada anak yang berani bentak-bentak orangtuanya, saya cuma bisa istigfhar dan beraharap supaya anak saya ngga seperti itu. Perasaan ini baru bisa saya rasain ketika sudah benar-benar menjadi orangtua. 

Flashback ketika saya kecil dulu. Saya dibesarkan di lingkungan dimana kedua orangtua saya adalah tipe orangtua yang keras. Bisa dibilang, orangtua saya galak banget. Jadi, saya merasa ada jarak antara saya dan orangtua. Saya jadi jarang curhat sama mamah papah. Tapi walau mereka keras, saya yakin banget kalau mereka sayang sama anak-anaknya. Pas udah berkeluarga dan punya anak, saya jadi paham kenapa papah melarang saya buat pacaran pas sekolah :) Papah melarang saya pulang malam apalagi sampe berdua-duaan sama laki-laki. Itu semua buat kebaikan saya. 

Fenomena saat ini, anak yang  lebih galak sama orangtuanya. Dan yang bikin tambah gemes, orangtuanya ko ya pasrah aja diperlakukan ngga baik sama anaknya sendiri. Bulshit banget bagi saya kalau alasannya karena kasian sama anak. Orangtua harus punya power di mata anak. Orangtua harus tegas dan punya peran penting. Kalau orangtua sampai diam aja dibentak-bentak anak, itu artinya orangtua ngga ada artinya dimata anak. 

Jika anak terbiasa galak dengan orangtuanya, dia akan terus melakukan hal yang sama ketika keinginan mereka ngga terpenuhi. Dan sikap ini sudah bisa terjadi sejak mereka masih balita. Pernah dong lihat ada anak yang crancky atau tantrum lalu orangtuanya buru-buru menuruti apa yang anak itu inginkan. Apakah kita termasuk orangtua yang seperti itu? Kita ngga harus galak loh ya, tapi tegas. Bisa dong bedakan antara galak dan tegas.

Saya sendiri masih termasuk orangtua yang galak. Namun, tentu aja galak untuk hal-hal tertentu. Saya merasa anak perlu batasan biar ngga liar. Bukan juga kita harus mengekang dan membatasi, tapi kita pasti tahu apa yang baik dan ngga buat anak. Kita perlu punya skala prioritas. Kalau dirasa sesuatu yang diinginkan anak itu ngga baik bagi dia, rasanya ngga perlu maksa untuk memenuhi keinginan mereka. Sekali aja kita nurutin kemauan anak ketika dia crancky, maka anak akan terus menuntut keinginannya terpenuhi. Sure, dengan jurus andalannya "pura-pura ngambek dan ngamuk".

Lalu, bagaimana mengajarkan etika sopan santun pada anak sejak dini? Jawabannya, look at your self. Iya, lihat diri kita sendiri. Sebagai orangtua, apa kita sudah berlaku sopan pada anak. Anak itu peniru yang sangat ulung. Ahli deh pokonya. Apa yang dilakukan oleh orangtua, bisa dengan mudah ditiru. Makanya, pengenalan sopan santun sebaiknya memang diajarkan sejak kecil. Karena, jika dibiasakan sejak kecil, maka berlaku sopan santun adalah perkara yang mudah bagi anak.

Ada beberapa tips yang mungkin bisa bermanfaat dan bisa diterapkan. Ini berdasarkan apa yang sudah saya ajarkan pada anak-anak saya dan berhasil.

  • Latih anak untuk menggunakan kata-kata yang baik dimanapun berada. Tegur anak ketika dia berbicara atau mengatakan kata-kata yang ngga baik. Kasih alasan kenapa kata-kata yang dia ucapkan itu ngga pantas diucapkan. Karena anak itu selalu penasaran dengan apa yang dilarang, maka jelaskan dengan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh anak. Paling enak sih pakai gaya bahasa mereka. Saya sering sekali bicara dengan gaya bahasa anak-anak, dengan begitu, anak merasa seperti ngomong dengan teman aja. 
  • Jangan gengsi dan malu untuk mengatakan "tolong" dan "terima kasih". Ternyata, masih banyak orangtua yang gengsi mengucapkan dua kata itu pada anak. Mereka merasa berhak nyuruh-nyuruh anak. Padahal sikap seperti ini bisa jadi alasan kenapa anak jadinya ngga sopan. Anak itu manusia juga yang punya perasaan. Mereka juga perlu dihargai walau masih anak-anak. Jika kita mengatakan "tolong, ambilkan bunda sapu dong nak" anak akan merasa dihargai. Juga, ketika kita mengucapkan "terima kasih anak shalih, udah ambilin bunda sapu" ini juga akan membuat anak merasa dihargai usahanya. Saya ngga gengsi apalagi malu ketika harus mengucapkan dua kata itu. Bagi saya, anak itu partner. Kebiasaan itu berhasil membuat anak-anak saya mengikuti apa yang saya lakukan. Mereka akan selalu mengucapkan "tolong" dan "terima kasih" ketika membutuhkan dan menerima sesuatu. 
  • Jangan biasakan menuruti kemauan anak ketika mereka marah atau tantrum. Karena sekali saja kita turuti, maka mereka kan terus melakukan hal yang sama ketika menginginkan sesuatu. Ibaratnya marah dan tantrum itu adalah senjata andalan mereka. Kalau saya, ketika anak ngambek maka yang saya lakukan adalah bicara dengan tegas. Misalnya aja pas mereka pengen mainan yang menurut saya ngga bakal bertahan lama, maka saya akan bilang "ngga usah dulu ya, sayang uangnya kalau mainannya ngga bertahan lama" tapi harus juga diberikan alternatif atau alasan yang jelas kenapa dia ngga bisa mendapatkan apa yang dia mau. Dan ketika dia tetap ngambek, saya akan lebih tegas bilang "berhenti ngambek atau bunda tinggal" sejauh ini, saya selalu berhasil dan akhirnya anak saya mau berhenti ngambeknya. Walau kadang diiringi sama nangis dulu. Tak apa anak nangis dan kita jangan berubah jadi lemah. 
  • Latih dan biasakan anak untuk selalu mengucapkan kata-kata yang baik. Walaupun sedang bicara dengan kakak atau adiknya sendiri. Saat mereka tiba-tiba mengucapkan kata yang ngga sopan, langsung buru-buru ingatkan. Beri tahu kalau apa yang mereka ucapkan itu adalah kata yang tidak sopan. Latih juga untuk selalu meminta izin jika meminjam barang orang lain. Dan mengucapkan terima kasih ketika selesai meminjam barang atau ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Ingatkan untuk ngga mengambil atau meminjam barang tanpa seizin pemiliknya, walaupun itu milik saudaranya sendiri. 
  • Selalu posisikan diri kita sebagai sahabat mereka. Kita ngga akan rendah di mata mereka ko. Saat ngobrol dengan anak-anak, ngga ada salahnya untuk memakai bahasa mereka. Malah kalau perlu pakai gaya anak-anak. Cara seperti ini ampuh banget membuat anak nyaman berada di dekat kita. Saya udah buktikan sendiri. Anak-anak akan merasa sedang bicara dengan temannya sendiri. Mereka juga jadi lebih terbuka dan mau menceritakan apa yang mereka alami. Misalnya saja cerita tentang teman-teman dan kegiatannya di sekolah. 

Ada saatnya kita harus tegas terhadap sesuatu. Namun, ada juga saat dimana kita harus menjadi sahabat mereka. Buat anak nyaman dan ngga kekurangan perhatian dari orang tuanya. Ketika anak sudah merasa diperhatikan, anak ngga akan merasa perlu cari perhatian dari orang lain.

Tegas bukan berarti galak, namun lembut bukan berarti ngga tegas. Kita pasti tahu kapan kita harus tegas, dan kapan harus bersikap lembut. Peran orangtua sangat penting sekali dalam tumbuh kembang dan psikologis anak. Lingkungan rumah jadi tempat pertama mereka untuk belajar banyak hal. Termasuk belajar etika dan sopan santun.

Jangan biarkan anak melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa penjelasan. Bukan bermaksud melarang. Tapi, apa iya kita bakal membiarkan anak-anak kita naik-naik ke sofa di rumah orang karena terbiasa naik-naik sofa di rumah. Bisa loh kasih penjelasan ke anak seperti "nak, kursi untuk duduk loh bukan untuk loncat-loncat" sekali diperingatkan mungkin masih belum ngerti. Tapi kita harus terus kasih tahu, kalau naik-naik ke kursi itu ngga sopan. Saya yakin, jika kita memakai bahasa yang enak dan bukan dengan membentak, mereka akan paham dengan sendirinya.

Tidak mudah memang melatih hal ini, namun akan jadi mudah jika dibiasakan. Semuanya bisa karena biasa. Jangan patah semangat ketika anak susah banget dibilangin. Perbanyak istighfar dan mohon juga pada Allah, agar melembutkan hati anak-anak dan kita sebagai orangtuanya.



note : Jika ada yang punya tips lain, boleh loh berbagi di kolom komen. Karena siapa tahu bisa membantu banyak orangtua lainnya. 



40 komentar:

  1. Iya mbak, kadang suka takut anak gak sopan kalau ketemu orang lain. Kalau udah gak sopan sm orang lain, mau ga mau orang tuanya yg "kena"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap ingatkan anak kalau apa yang dia lakukan ngga sopan. Mungkin dia ngga langsung ngerti, tapi kalau sering diingatkan pasti bisa. Ini Udah aku praktekin ke anak, Alhamdulillah berhasil :)

      Hapus
  2. Anak merupakan fotokopi dari orang tua. Kalo yang aku lihat selama ini, jika orangtuanya sopan dan mencontohkan kesopanan, anaknya insyaallah juga menurun sopan. Begitu juga sebaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget wi. Jadi anak itu emang copy pastenya kita, orangtuanya. Kalau kita baik, insya Allah anak pun jadi baik :)

      Hapus
  3. Teman sepermainan juga ngaruh banget mbaak. Kadang sy surprise kok mereka mengenal kosakata "jorok" padahal di rumah kalimatnya tertata

    BalasHapus
    Balasan
    1. yupp betul banget mba aya. Lingkungan sekitar pun punya peranan dalam perilaku anak. Saat anak kembali dari mainnya, kita bisa filter lagi sikap mereka. Selalu ingatkan untuk tidak berkata-kata yang tidak baik.

      Hapus
  4. Bener bgt mba. Lingkungan di dalam rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Semoga anak-anak kita tumbuh jadi anak yamg sopan, sholeh sholehah, cerdas dan sehat selalu :)

    BalasHapus
  5. Makanya aku slalu 'amaze' dengan orang tua yang justru membiarkan anaknya berlaku tidak sopan. Dan ngajarin anak emanh harus dr kecil ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, harus sedini mungkin. Karena kalau udah gede, jadinya lebih sulit :)

      Hapus
  6. PR banget untuk mengarahkan Fathan berkata-kata yg baik atau diam. Dia itu cepet banget nirunya. Sekali keluar rumah dijemput teman2nya, pulang2 bawa kosakata baru yg aduh ga bangeeet. Emaknya udah tegasin, dia minta maaf dan janji ga ngulangin tapi tetep aja kadang suka nyeplos, hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat kembali ke rumah, kita filter lagi. Jangan sampai dia ngga tahu kalau apa yang dia ucapkan itu ngga baik :)

      Hapus
  7. Anak saya mba usia 10 tahun, lagi masa peralihan. Kalu saya galakin, dia makin menjadi-jadi jadi. Kalu sudah kesel banget mau ga mau saya galakin, dengan catatan dia ga boleh mengulang kesalahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usia 10 tahun udah masuk pra remaja. Emang kebanyakan begitu, kita mungkin udah kesusahan saat mau kasih tahu. Tetap diarahkan aja ya ka, diingatkan terus :)

      Hapus
  8. thanks ilmunya kakak. berhubung belum berkeluarga jadi belajar sama yg sudah berpengalaman.

    BalasHapus
  9. Memang harus tekun dan sabar ya ngingetin anak-anak untuk selalu sopan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar seluas samudera deh dee :)

      Hapus
  10. Kebetulan saya mengajar di skolah yang menengah kebawah kemampuan ekonominya nih mb. Setiap hari saya temuin kelakuan anak2 yang ada2 aja. Dari cara bicara sampai tindakan yang tidak sopan. Setiap memanggil orang tua & ngibrol selalu teeucap dari mereka, "di rumah juga begitu bu. Terserah ibu deh mau diapain anak saya. Saya sensiri sudah menyerah." Saya hanya bisa mengucap dalam hati, "orang tuanya aja udah nyerah. Apalagi guru yg hanya ketemu 5 jam-an. Gimana mau merubah pribadi anak menjadi lebih santun?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. PR lagi buat para guru ya. Ternyata ngga cukup ngurus anak sendiri, anak orang pun perlu diurus. Smeoga tetap sabar ya bu guru. Kita cuma bisa bilangin mereka ketika hati mereka udah kita sentuh. dan itu PR buat para pengajar :)

      Hapus
  11. anakku hampir 3 tahun, dan sekarang lagi suka banget lompat2 dimanapun dia berada dan lagi ngapain aja. masih susah untuk di kasih tahu, dan selalu ngingetin diri sendiri untuk sabar gak marah kalau dia lagi seperti itu. dan itu yang paling pe-er.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi lucu-lucunya. Lagi seneng eksplor lingkungan, dan itu wajar. Kita cuma bisa sabar dan tetap bilangin kalau loncat-loncat ada tempatnya. Kalau loncat-loncatnya di lapangan atau arena bermain, biarin aja mba. Itung-itung biar dia cepet tinggi ;)

      Hapus
  12. Benar juga sih teh,,,, tapi yg penting qt sbg ortu gk bosen 2 memberikan contoh yg baik

    BalasHapus
  13. Iya, kalau anak-anak sampai tidak sopan pasti ada penyebabnya. Bisa karena meniru atau pola asuh yang membuat mereka jadi seperti itu. Jadi memang sebaiknya orang tua juga banyak introspeksi. Dan juga jangan patah semangat untuk mengasuh anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbachi, ngga boleh patah semangat untuk anak yang lebih baik :) orangtua juga harus banyak belajar, terutama belajar sabar :)

      Hapus
  14. beri aturan yang jelas kepada anak, dan biasakan jujur ke anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan, kita juga dilatih supaya taat sama aturan :)

      Hapus
  15. Aku nggak bisa mbak tega sama anak. Ya kali aku kyk orangtuamu kejam gtu, hahah.. Tapi di imbangi sama pelukan, kecupan, dan sentuhan yg banyak. Jd anak ngerti klo ortunya marah dama engga

    BalasHapus
  16. Tfs Mba, tipsnya berguna buat Mom to be seperti saya^^

    BalasHapus
  17. Ach bagus banget tulisannya Mbak, memang anak harus diberikan contoh dan dibiasakan untuk melihat hal-hal yang baik. PUn, klau melihat hal-hal yang seperti di atas tadi, orangtua harus memberikan pengertian suapa anak tidak mencontohnya. Hiks, anak jaman sekarang pinter pinter mencontoh hal-hal dari lingkungan maslahe

    BalasHapus
  18. Meskipun saya belum menjadi seorang ibu Mbak, tapi saya ngerasa banget anak2 didik saya yang umur 8 tahun bicara kotor, bahkan sama saya sendiri gurunya. Tingkat kesopanannya nggak ada lagi sama guru2, saya nggak tahu gimana di rumahnya. Beda banget saat zaman saya seumuran mereka, guru itu benar2 dihargai, dan dihormati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saran saya, bicara dengan orantuanya. Ceritakan perilaku anaknya ketika di sekolah. Dan coba nasehati orangtuanya.

      Hapus
  19. masih belajar supaya tegas dan teguh pendirian saat melihat anak tantrum. Ga tega lihat anak nangis jerit-jerit apalagi kalau di tempat umum. haduh malu dilihat orang. tapi emang harus tegas dan beri pengertian supaya ia paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tegas bukan berarti galak kan. Insya Allah kalau terus dikasih tau, anak-anak bakal ngerti

      Hapus

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...