badge

Sabtu, 13 Januari 2018

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren (Boarding School)

Mempersiapkan anak masuk pesantren

'bun, aku masuk SMP biasa aja yaa' Abang tiba-tiba memulai percakapan yang ngga pernah saya duga. Dengan tenang saya bertanya, 'kenapa memangnya?' Abang tersenyum dan mengutarakan alasan kenapa dia maunya sekolah di sekolah umum aja, bukan boarding school a.k.a pesantren. 
Sejak abang kelas 3 SD, saya dan suami sudah mengkondisikannya untuk siap masuk pesantren. Saya gambarkan dan ceritakan bagaimana kehidupan di pesantren nanti. Ngga menakuti-nakuti apalagi sampai mengancam. Saya menghindari mengatakan yang ngga enak soal pesantren. Karena saya tahu itu malah akan membuat anak jadi ngga tertarik dan merasa 'dibuang'.


Soal pilihan melanjutkan sekolah ke boarding school bukan perkara mudah. Saya sering nangis kalau ingat nanti bakal berjauhan sama anak. Bagaimana kehidupan mereka nantinya tanpa saya, bagiamana mereka urus diri mereka, makan, nyuci baju, dan banyak hal yang saya pikir ngga bisa mereka kerjakan sendiri. Apalagi anak laki-laki yang cenderung cuek. Ah, bisa ngga yaa saya mengikhlaskan abang dan kakak buat mondok? 

Abang sekarang sudah kelas 5, hanya tersisa 1 tahun lagi buat mempersiapkannya supaya siap masuk pesantren. 1 tahun itu sebentar banget. Tapi karena sudah dikondisikan sejak dia kelas 3, saya berharap mindsetnya sudah terbentuk. Walau akhir-akhir ini dia lagi suka 'bercanda' untuk masuk sekolah umum saja daripada pesantren. 

Sudah ada beberapa pilihan pesantren yang saya dan suami pilih. Insya Allah, awal tahun ini kami akan ajak abang untuk lihat-lihat. Bagaimana pun nantinya abang yang bakal menjalani proses belajar di pesantren, bukan orangtuanya. Makanya, penting banget untuk membiarkan dia melihat dulu. Membiarkan dia membangun feel dengan calon sekolahnya nanti. Dengan begitu, ketika sudah waktunya dia masuk pesantren, dia bisa dengan mudah menyatu. 

Memasukkan anak ke pesantren pasti ada pro kontranya di dunia per-orangtua-an. Ada orangtua yang menganggap dengan memasukkan anak ke pesantren itu artinya membuang anak, ngga sayang, dan lain sebagainya. Tapi, ngga sedikit juga yang sepemahaman kalau pesantren adalah tempat yang tepat untuk menghindari fitnah dunia yang makin naudzubillah. Kelompok orangtua yang paham inilah yang jadi penyemangat saya dan suami. Mantap memilih pesantren sebagai jenjang pendidikan anak-anak setelah Sekolah Dasar.

tips-agar-anak-mau-masuk-pesantren
(sumber : kompasiana)
Walau belum benar-benar menjadi orangtua dari seorang santri, saya mau berbagi tips mempersiapkan anak masuk pesantren. Buat para orangtua yang ingin memasukan anaknya ke pesantren, semoga bisa membantu. Setidaknya, kita bisa saling support yaa. 

Bicara Pada Anak 

Karena yang akan berada di pesantren adalah anak, jadi penting banget untuk bicara dengan mereka. Bicaralah dari hati ke hati dan dalam kondisi yang santai. Jelaskan maksud dan tujuan kita memilih pesantren untuk jenjang sekolah mereka selanjutnya.

Bicara dengan suasana yang nyaman. Gunakan juga bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Penting juga untuk menjelaskan tentang lingkungan pesantren secara umum. Tujuannya, supaya anak punya gambaran dan ngga kaget ketika benar-benar masuk ke pesantren.

Ajak Anak Memilih Pesantrennya

Pada akhirnya, anaklah yang nanti bakal menjalani proses belajar di pesantren. Jadi, serahkan pilihan pesantren pada anak. Kita, sebatas merekomendasikan saja. Ngga masalah sih kalau kita juga memberitahukan pada anak tentang kelebihan-kelebihan pesantren yang kita rekomendasikan. Namun, hasil akhir tetap serahkan pada anak.

Dengan diajak memilih pesantren, berharap anak mampu menjalani studi di pesantren. Anak akan mudah menyatu karena sudah punya feel dengan pesantren pilihannya. Kalau sudah enjoy, bukan ngga mungkin kalau nantinya mereka bakal punya prestasi.



Berlatih Siklus Pesantren 

Di pesantren nantinya bakal banyak kegiatan, setiap hari. Ajak anak untuk berlatih dengan membuat aturan yang ya mirip-mirip dengan pesantren. Misalnya aja, ngga nonton tivi, ngga main gadget, mengaji teratur, shalat tepat waktu, displin, dan terbiasa rapih.

Kalau di rumah saya, ada aturan main gadget dan nonton tivi hanya tiap libur sekolah saja. Alhamdulillah, anak-anak patuh dan ngga protes. Saat ada yang curi-curi kesempatan dan ketahuan, mereka akan buru-buru mematikan tivi atau gagdet dan pasang muka bersalah. Kalau udah begitu, paling saya cuma mengingatkan kembali soal aturan.

Kalau yang sekolahnya pagi, biasanya mereka udah otomatis bangun sendiri yaa. Etapi ada juga deh yang susah banget dibangunin. Ajak anak untuk selalu bangun pagi, mandi, dan shalat shubuh berjama'ah di masjid. Kalau masjidnya jauhhh bangett, bisa jama'ah dengan keluarga di rumah.

Latih juga anak buat tertib. Artinya, tiap kali ada aturan, berusaha untuk ngga melanggar. Disiplin juga perlu dilatih. Meletakkan tas setelah pulang sekolah, menaruh sepatu ke tempatnya, kaos kaki, seragam, itu juga perlu dilatih. Walau udah berkali-kali diingatkan dan masih aja sembarangan, terus aja diingatakan. Kita memang harus banyak-banyak sabar untuk hal yang satu ini. Salah satu yang bikin saya 'konser' melulu di rumah, ya itu. Udah berkali-kali diingatkan buat jemur handuk setelah dipakai, tapi yaa tetap aja geletak di atas kasurr terus. Sabarrr, sabarr.

Ikhlas 

Ikhlas ngga ada mata pelajarannya. Ikhlas perlu latihan dan ngga bisa ujuk-ujuk datang dengan sendirinya. Ikhlas itu berat, tapi kalau kita sudah menguasainya, semuanya bakal terasa mudah. Saya pun dari sekarang harus belajar ikhlas. Sekarang sih masih bisa ketemu sama si abang, setiap hari. Masih suka ngomel dan marah pas dia bikin salah. Tapi, kurang dari 2 tahun lagi semuanya bakal berubah. Abang udah ngga ada di rumah. Hiks.. melow lagi deh.

Saya banyak cari 'penguatan' dari orangtua lain yang anaknya udah ada di pesantren. Awalnya memang berat, tapi mau ngga mau kita harus ikhlas. Karena, itu semua buat kebaikan si anak juga. Kalau kitanya berat dan ngga ikhlas, anak pun bakal resah balajar di pesantren. Karena 'gelombang' kita bakal sampai ke anak. Jadi kalau kita ikhlas lillahi ta'ala, anak pun bakal enak  dan betah belajarnya. Dia akan lebih cepat menyerap pelajaran dan beradaptasi.

Jujur, pas nulis bagian ini, saya nulisnya sambil nangis. Saya lagi mencoba menguatkan diri dengan nulis ini. Saya yakin saya bisa melewati masa-masa melow dan pada akhirnya mengikhlaskan anak-anak buat mondok.

KH. Hasan Abdullah Sahal 

Coba deh, simak pesan dari KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor  (saya kutip dari sini)
"Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Quran, gak punya akhlaq, ujung – ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati. Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Quran gak usah di tangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur.
Bayangkan kalau anak – anakmu hidup di luar sekarang, apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakin kah kira – kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ? Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga yo sak karepmu.
Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana. Anak – anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu baju sepatu tas ber merk, lha pas di suruh ngaji blekak blekuk. Di tanya tentang agama prengas prenges…arep dadi opo.. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro – kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Quran gak ngerti budi pekerti.. Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ? Apa hak mu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”
Saling menyemangati, saling ikhlas, saling percaya, adalah kunci agar kita kuat melepas anak buat mondok. Percaya aja kalau mereka mampu, mereka kuat, mereka tangguh. Kadang, kita aja yang terlalu lebay dengan menganggap anak kita lemah. Yakin aja kalau mereka mampu melewati masa-masa belajarnya di pesantren.

Kan, bukan berarti kita ngga bisa ketemu sama mereka selamanya. Saat libur sekolah, mereka juga pasti pulang. Atau tiap beberapa bulan sekali, kita bisa datang menegok. Saran saya, jangan tiap bulan dikunjungi. Kenapa? untuk merawat rindu. Agar ketika berjumpa, menjadi perjumpaan yang indah. Tahan rindunya dan yakin kita mampu. Kalau tiba-tiba rindunya ngga bisa ditahan, berdoa aja. Minta Allah sampaikan rindu kita ke anak yang sedang menuntut ilmu yang nun jauh disana.

Selamat mempersiapkan anak-anak menuju jenjang berikutnya ya bu. Kalau ada tips lain, boleh di share loh. Semoga bisa membantu :)

45 komentar:

  1. Waaah salut ya si abang mau masuk pesantren. Anakku nggak mau. Sampai nangis nangis. Dulu semangat mau masuk pas kelas 4 an. Pas Ramadhan dia ikut pesantren kilat sebulan dia ternyata merasa gak kerasan di pesantren. Ya udah lah sekolah di SMPIT aja daripada kakak kelasnya yang masuk pesantren 3 minggu keluar. Dan ada 3 orang yang masuk pesantren keluar cuma beberapa bulan . Yang penting anaknya nyaman aja. Salut sama Uci dan Abang. Semangaat ya Naak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, keputusaannya sudah dimusyawarahkan dengan yang bersangkutan (abang). Sebagai latihan, dia rutin ikut Pesantren Tahfidz tiap hari Jum'at di sekolah. Alhamdulillah anaknya senang.

      Hapus
  2. Halo mba Uchy. Mba, pengalaman sepupuku dipaksa masuk pesantren tapi nggak bertahan lama. Dia nangis setiap kali ke pesantren. Dan aku pun jadi ikut sedih karena dia melakukan apa yang bukan keinginan dia dan paksaan satu orangtua aja. Tapi keponakku yang lain dengan sadar memilih ke pesantren dan alhamdulillah. Intinya memang membicarakan sejak awal kepada anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena yang akan ngejalanin adalah anak, makanya semuanya harus dibicarakan dengan anak. Harus sepertujuan dia juga. Saya sama suami ngga maksa abang masuk pesantren, tapi kami menyarankan sama dia. Keputusan akhirnya tetap ada di abang. Alhamdulillah, anaknya siap. Tinggal akunya nih yang harus siap juga.

      Hapus
  3. MasyaAllah.... saya pengen banget anak saya masuk pesantren, malah sudah membidik pesantrennya, tapi anaknya masih blm mau, padahal sdh saya ceritakan dunia pesantren itu seperti apa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu yang support system supaya anak berminat masuk pesantren adalah lingkungan. Abang sekolah di SDIT dimana kakak-kakak kelasnya hampir semua lanjut ke pesantren. Guru-gurunya pun merekomendasikan pesantren, sepupu-sepupunya banyak yang masuk pesantren, Anak-anak dari teman-teman abinya juga banyak ang lanjut ke pesantren, Alhamdulillah pelan-pelan mindset abang terbentuk. Kalau pesantren adalah tempat yang tepat.

      Hapus
  4. Hiks sedih di awal2 aja mba,ngeliat kamarnya, bajunya, sepatubolany,beleber air mata,, tp memang hrs ikhlas kuncinya,brpisah sementara utk brkumpul yg abadi klak insyaAllah

    BalasHapus
  5. Aku juga uda mulai mempersiapkan putriku mondok sejak dia kelas 1 SD, alhamdulillah sih dia mau dan semangat. Semoga nanti ga berubah lagi. Yg ku khawatirkan memang pergaulan remaja yg makin naudzubillah itu mba..hiks.. Makasih tips nya ya mba. Mau aku coba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling support sesama orangtua calon santri. Insya Allah, dimudahkan ya mba :)

      Hapus
  6. Aduh ga bisa ngebayangin yah mba uchi kalau aku di posisi mba uchi.
    Kayaknya AL nginep di rumah nenek nya 1malam aja aku ngerasa kesepian banget mba.
    Padahal demi kebaikan nya yah mba mereka masuk pesantren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya pasti berat mba, tapi Insya Allah lama-lama kuat. Demi kebaikan anak juga

      Hapus
  7. Insyaallah tahun ini, si mbarep juga nyantri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, udah mau mondok yaa mas. Semangat yaa ibu bapaknya :)

      Hapus
  8. Untuk hal ini, kedua orang tua mesti/kudu/harus/wajib siap mental. Berani berpisah, artinya berani kasih tanggung jawab kepada anak. Ada alasan-alasan yang memang tak perlu dijelaskan ketika orang tua atau langsung keinginan anaknya sendiri masuk ke pesantren. Otomatis, perpisahan sekian tahun diasuh bersama selama di rumah, terjadi. Inilah yang saya sebut keikhlasan ketika kedua orang tua merelakan anaknya menimba ilmu, tak saja dunia, tetapi bekal di akhirat untuk diri dan keluarganya. Saat ini pun, saya coba melepas perlahan-lahan anak-anak saya untuk "jauh" dari ortu, mesti sementara. Alhasil, rindu membara itu tiba. Tetapi, kami coba untuk menghela meski terkadang rindu tak tertahankan. Lama kelamaan menjadi terbiasa. Ya, inilah perjuangan "Sementara" untuk berpisah dari salah satu anggota keluarga. Bagaimana kalau kita akan menuju padaNYA. Insya Allah berkah Mba Uchi. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, intinya keikhlasan. Alhamdulillah anaknya siap, tinggal bunda sama abinya yang harus sipa juga pisah sementara sama anak. Insya Allah, Insya Allah pasti Allah mampukan kami.

      Hapus
  9. Saya bacanya sambil mbrebes mili mba hehe..pengen juga masukin abang ke pesantren tapi yo itu mikir gak ketemu,nanti disana gimana(balada emak2) hehe.. sempet berkunjung ke pesantren tempat ponakan mondok dan disana banyak anak2 yang udah dari kelas 1 sd udah mondok, mereka mah happy aja gitu main, ketawa baren sam temen2nya saya yang liat malah nyess gitu mikirin mereka jauh dari orang tua hehe.. saya malah salut sama orang tua yang anak2nya pada mondok, semoga bisa mempersiapkan abang buat mondok juga..terimakasih sudah sharing mba��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang memang kita suka teralalu lebay yaa mba. Anak-anak mah sebenarnya happy, tapi kitanya suka kepikiran. Ya gitu deh, namanya pisah sama anak pasti ada melow-melownya. Semoga saya kuatt.

      Hapus
  10. Subhanallah, keren lho mbak harapannya anak mau masuk pondok pesantren. dlu saya pengen mondok tapi gak kesampaian karena almarhum bapak belum tega melepas anak perempuannya mondok jauh plus kepentok biaya. Dan terima kasih buat tips-tips nya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali pada tujuan ya mbak. Mungkin cara ini yang mampu saya dan suami bisa. Anak-anak sekarang itu ujiannya berat banget. Belum lagi paparan internet yang kalau ngga kita kontrol, bisa blasss deh. Aku ngeri mba. Jadi Lillahi ta'ala aja sama Allah

      Hapus
  11. Semangat teh Uchi. Kita jadi orangtua memang harus kuat, apalagi udah kemauan anak. Aku awal-awal jauh dari anak buat belajar agama memang nangis, tapi sekarang dah biasa. Tipsnya mantep neh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, banyak support dari teman dan keluarga.

      Hapus
  12. Aku juga tertatrik menyekolahkan anak ke pesantren tapi sama suami gak di ijinin jadi ya yang terbaik saja asal terus di kontrol orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimanapun anak sekolah, pengawasan orangtua penting banget. Jangan samapai lengah deh. Pokoknya semua under control orangtua. Pergaulan bebas anak-anak sekarang bikin merinding.

      Hapus
  13. Saya jg pgn anak masuk pesantren, tp liat dulu deh gmn perkembangan dia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, harus dikondisikan sama anaknya. Jangan cuma kemauan orangtua semata

      Hapus
  14. Aku pengen banget ada salah satu adekku yg masuk pesantren. Tapi ibuk gak ngizinin :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ibuk punya pertimbangan lain yang memberatkan beliau :)

      Hapus
  15. Alhamdulillah... pondok pesantren memang tempat pas buat menempa diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah mas, memang banyak pertimbangannya yang pada akhirnya saya dan suami mantap pilih pesantren.

      Hapus
  16. terima kasih sharingnya :) semoga bisa membantu saya kelak buat persiapan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba, terima kasih sudah mampir ke blog saya :)

      Hapus
  17. InsyaAllah abang dan mba uci bisaa...akupun mau arfa ke pesantren nantinya..kalo ngejar dunia aja mah gak ada habisnya..pengen anak pinter ngaji gak kayak ortunya yg kitu2 wae

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah. Iya dunia kan tempat kita nyari bekal buat akhirat. Sedih ya kalo waktunya 'pulang' tapi ngga punya apa-apa :( Kalau punya anak yang shalih kan jadi bekal buat orangtuanya juga.

      Hapus
  18. Sebagian besar org tua masih ada yg berat melepas anknya melanjutkan ke pesantren, mungkin ya itu..akn berjauhan dg kondisi waktu yg tdk sebentar

    BalasHapus
  19. Kami juga pingin anak kami mondok di ponpes...bahkan kami ajak ke bbrp ponpes di jogja dan di malang....tp krn anaknya nggak mau jadi kami jg nggak maksa dia harus mondok.

    BalasHapus
  20. Wah dulu daku mau masuk pesantren darusalam, jawa Tengah. eeeehhh batal sekolah di jakarta. Tapi mungkin jalan Takdir yaks

    BalasHapus
  21. Setuju bgt dg pesantren utk pendidikan anak. Pun kalau blom siap SMP bs SMA. Bener bgt anak hrs belajar mandiri agar gak manja. Semoga lancar ya Ci. Aku jg blom lama nganter ponakan daftar pesantren atas kemauannya sendiri. Seneng rasanya dia sudah bs memilih. Kt tinggal dukung ajah.

    BalasHapus
  22. Dimanapun tempat anak menempuh pendidikan, kunci utamanya adl kenyamanan. Krn percuma klo anaknya gak nyaman. Malah gak fokus belajar.

    BalasHapus
  23. Nah ini..cocok banget. Banyak anak ogah masuk pesantren..karena diawal ditakuti..diancam.., " coba deh kalo kamu gak nurut mama masukin pesantren aja" ..jatuhnya pesantren seperti penjara yg menakutkan...


    Tapi ...rasanya pesantren kok jadi milik ..masyarakat kelas atas...
    Masuknya ampunnn...mihil hi2

    Semoga rejeki diberkahkan bisa masukin anak ke pesantren..

    BalasHapus
  24. Pasti berat ya mba harus merelakan si Abang demi kehidupannya yang lebih baik. Tapi aku pribadi tipe yang insya allah terserah anak, karena banyak disekelilingku anak-anak yang nggak mau dimasukkan ke pesantren tapi dipaksa sama orang tuanya dan akhirnya anaknya kabur-kaburan :( sedih banget.

    Semoga nanti si Abang bahagia dan bisa menjalani kehidupan di Pesantren dengan keinginan Mba Uci dan suami yah. Doaku yang terbaik untuk kalian

    BalasHapus
  25. Mba Uciii aku juga berharap bisa masukin anakku ke pesantren.. tapi masih banyak pertimbangan, salah satunya takut sediih.. tp setelah baca postingan ini ku jadi sadar dan harus dikuat-kuatin yaaa..

    BalasHapus
  26. Hampir semua ortu merasakan hal yg sama, seandainya memutuskan anak lanjut ke pesantren. Nggak cuma anaknya yg butuh persiapan tapi jg orangtuanya ya mbak... Kalo boleh nambahin, perlu juga tuh orangtua benar2 memiliki informasi yang penuh dan jelas tentang pesantren yang dituju, misalnya visi misi pesantren, krn menurutku meskipun basisnya sm2 Islam, tp terkdg kan garis perjuangannya berbeda, krn lahan dakwah yang memang sangat luas... duhh pangapunten, komen terll banyak yaa...hehe. salam kenal ya mbak, kbetulan sy sangat tertarik dg bahasan seputar anak...Tks artikelnya bagus!

    BalasHapus
  27. Anak saya sudah 2 bulan di ponpes sampai sekarang masih berat nyesek ingin rsanya bawa anak plng saja tp saya tepis saya akan menunggu sampai hati ini bener benar akan terbisa entah sampai kapan.semoga saya kuat samai k saya lulus nanti

    BalasHapus
  28. Anak saya bermasalah terus disekolah karna hyperactif ada aja yg dibikin masalah disekolah kalau g jahil ya dijahilin kalau g berantem n anaknya suka banget main sampe.lupa waktu memang sy baru kelas 2sd tapi mungkin ga sey ma anak hyperactif bisa merubah sikap lambat lain dengan didikan pesantren

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Komentarnya. Maaf, link hidup dan spam akan otomatis terhapus ya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...